Showing posts with label gambar kerahiman ilahi. Show all posts
Showing posts with label gambar kerahiman ilahi. Show all posts

Thursday, September 27, 2018

Lukisan Kerahiman Ilahi

Pada tanggal 22 Februari 1931, Tuhan kita menampakkan diri kepada St Faustina dalam suatu penglihatan. Ia melihat Yesus berjubah putih dengan tangan kanan-Nya terangkat untuk menyampaikan berkat, sementara tangan kiri-Nya menunjuk pada hati-Nya, darimana dua sinar besar memancar, satu berwarna merah dan yang lainnya berwarna pucat. St Faustina terpaku menatap Tuhan dalam keheningan, jiwanya diliputi rasa takut sekaligus sukacita yang besar. Yesus berkata kepadanya:

“Buatlah sebuah lukisan menurut gambar yang engkau lihat dengan tulisan di bawahnya: Yesus, Engkau Andalanku…. Aku berjanji, jiwa yang menghormati lukisan ini tak akan binasa. Aku juga menjanjikan kemenangan atas para musuhnya bahkan sejak di bumi ini, dan teristimewa pada saat ajal. Aku Sendiri yang akan membelanya sebagai kemuliaan-Ku (47,48).… Aku menawarkan timba kepada jiwa-jiwa dengan mana hendaknya mereka terus-menerus menimba rahmat-rahmat dari sumber belas kasih. Timba itu adalah lukisan ini dengan tulisan: `Yesus, Engkau Andalanku' (327)…. Aku menghendaki lukisan ini dihormati, pertama-tama di kapelmu, dan lalu di seluruh dunia (17).”

Taat pada permintaan pembimbing rohaninya, St Faustina menanyakan kepada Tuhan makna kedua sinar yang memancar dari hati-Nya. Maka, ia mendengar kata-kata berikut sebagai jawaban:

“Kedua sinar itu melambangkan Darah dan Air. Sinar pucat melambangkan Air yang menguduskan jiwa-jiwa. Sinar merah melambangkan Darah yang adalah hidup jiwa-jiwa. Kedua sinar ini memancar dari kedalaman belas kasih-Ku saat Hati-Ku yang sengsara dibuka oleh sebilah tombak di atas Salib… Berbahagialah jiwa yang tinggal dalam naungannya, sebab tangan keadilan Tuhan tidak akan menimpanya (299).… Dengan sarana lukisan ini, Aku akan menganugerahkan banyak rahmat kepada jiwa-jiwa. Lukisan ini akan menjadi sarana pengingat akan tuntutan-tuntutan belas kasih-Ku, sebab bahkan iman yang terkuat sekalipun tak akan ada gunanya tanpa perbuatan (742).”

Pada tanggal 2 Januari 1934, Sr Faustina untuk pertama kali meminta Tn. Kazimierowski melukis gambar Yesus Yang Maharahim.
Pada bulan Juni 1934 lukisan selesai dibuat, tetapi Faustina menangis kecewa karena lukisan tidak seindah penampakan yang disaksikannya. Kepada Yesus ia mengeluh, “Siapakah kiranya yang akan dapat melukis Engkau seagung Engkau sendiri?” Sebagai jawab, ia mendengar kata-kata berikut:

“Keagungan lukisan ini bukan terletak pada indahnya warna ataupun goresan kuas, melainkan dalam rahmat-Ku (313).”   

Oleh karenanya, walau sekarang ini ada banyak versi lukisan “Yesus, Engkau Andalanku,” kita dapat senantiasa yakin bahwa tak peduli lukisan versi mana yang kita pilih, lukisan tersebut merupakan sarana rahmat Tuhan jika kita menghormatinya dengan penuh kepercayaan akan kerahiman-Nya.

Tuesday, February 9, 2016

GAMBAR YESUS YANG MAHARAHIM

Bentuk gambar ini diwahyukan dalam penglihatan yang dilami Sr. Faustina pada tanggal 22 Februari 1931, di dalam kamar biaranya di Plock. “Sore itu, ketika aku berada di dalam kamarku, aku melihat Tuhan Yesus berpakaian jubah putih. Tangan kanan-Nya terangkat seperti sikap memberi berkat, sedangkan tangan kiri-Nya menyentuh jubahnya pada bagian dada. Dari balik jubah itu, terpancarlah dua sinar besar: yang satu berwarna merah dan yang lain berwarna pucat. ... Tidak lama kemudian Tuhan berkata kepadaku, ‘Lukislah sebuah gambar tepat seperti yang engkau lihat ini, dengan tulisan di bawahnya: Yesus, Aku Percaya Kepada-Mu’!” (BH, 47). “Aku menghendaki agar gambar itu .... diberkati secara meriah pada hari Minggu pertama sesudah Paskah; Hari Minggu itu harus menjadi Pesta Kerahiman” (BH, 49).
            Karena alasan ini, isi gambar ini sangat erat terkait dengan liturgi Hari Minggu kedua Paskah. Pada hari ini, Gereja membaca Injil Yohanes tentang Kristus yang bangkit yang menampakkan diri di Ruang Atas dan tentang penetapan Sakramen Tobat (Yoh 20: 19-29). Oleh karena itu, gambar ini menampilkan Juru Selamat yang bangkit dari antara orang mati, yang membawa damai sejahtera kepada manusia melalui pengampunan dosa berkat sengsara dan kematian-Nya di salib.
            Pancaran darah dan air yang mengalir dari Hati yang ditikam dengan tombak (tidak terlihat dalam gambar) dan goresan-goresan akibat luka-luka penyaliban mengingatkan kita akan peristiwa Jumat Agung (Yoh 19: 17-18; 33-37). Maka gambar Juru Selamat yang Maharahim ini memadukan dua peristiwa Injil yang secara paling jelas mengungkapkan kepenuhan kasih Allah bagi umat manusia.
            Kedua berkas sinar adalah unsur mencolok dari Gambar Yesus yang Maharahim. Tuhan Yesus, ketika ditanyai mengenai arti kedua sinar itu, menjelaskan, “Sinar pucat melambangkan air yang menguduskan jiwa-jiwa. Sinar merah melambangkan darah yang memberikan kehidupan kepada jiwa-jiwa. ...Berbahagialah orang yang bernaung dalam kedua sinar ini” (BH, 299). Sakramen Baptis dan Sakramen Tobat memurnikan jiwa. Sakramen Ekaristi menyediakan makanan secara sangat melimpah. Dengan demikian, kedua sinar itu melambangkan sakramen-sakramen kudus dan segala rahmat Roh Kudus, yang simbol biblisnya adalah air, sebagaimana Perjanjian Baru antara Allah dan manusia diikat dalam Darah Kristus.
            Gambar Yesus yang Maharahim itu sering kali disebut “Gambar Kerahiman Ilahi,” yang memang tepat karena persis dalam misteri Paskah, Kristus sang kasih Allah kepada umat manusia dinyatakan secara paling ekspisit.
            Gambar ini tidak hanya mengungkapkan Kerahiman Ilahi, tetapi juga menjadi tanda untuk mengingatkan kewajiban kristiani, yakni berserah kepada Allah dan aktif mengasihi sesama. Berkat kehendak Kristus, gambar ini disertai tulisan “Yesus, Aku Percaya Kepada-Mu.” Yesus juga menjelaskan, “Gambar itu dimaksudkan untuk mengingatkan orang akan tuntutan-tuntutan kerahiman-Ku sebab bahkan iman yang paling kuat pun akan sia-sia kalau tidak disertai dengan perbuatan” (BH, 742).

            Kepada orang yang menghormati gambar ini sebagaimana dijelaskan di atas, yakni dengan didasari sikap mengandalkan dan mengamalkan belas kasih, Tuhan kita memberikan janji-janji khusus, yakni keselamatan kekal, kemajuan pesat di jalan kesempurnaan kristiani, rahmat kematian yang bahagia, dan segala rahmat lain yang akan diminta kepada-Nya dengan penuh pengharapan. “Melalui Gambar itu, Aku akan memberikan banyak rahmat kepada jiwa-jiwa; oleh karena itu, biarlah setiap jiwa mendapat kesempatan untuk menghampirinya” (BH, 570).

MISI SANTA FAUSTINA

Suster Faustina dipilih oleh Tuhan Yesus sebagai juru tulis dan rasul kerahiman-Nya; melalui dia, Tuhan menyampaikan amanat-Nya yang agung kepada seluruh dunia. “Dalam Perjanjian Lama, Aku mengutus para nabi yang membawa ancaman-ancaman kepada umat-Ku. Sekarang, Aku mengutus engkau membawa kerahiman-Ku kepada umat manusia di seluruh dunia. Aku tidak ingin menghukum umat manusia yang sedang sakit. Sebaliknya, Aku ingin menyembuhkan mereka, sambil mendekapkan mereka ke Hati-Ku yang maharahim” (BH, 1588).
            Misi Sr. Faustina mencakup tiga tugas:
1. Mendekatkan dan memberitakan kepada dunia kebenaran yang sudah diwahyukan dalam Kitab Suci tentang kasih maharahim Allah kepada setiap manusia;
2. Memohon kerahiman ilahi bagi seluruh dunia, antara lain melalui praktik-praktik yang disampaikan oleh Tuhan Yesus dalam bentuk-bentuk baru devosi kepada Kerahiman Ilahi, yaitu melalui gambar Kerahiman Ilahi dengan tulisan, Yesus, Aku Percaya Kepada-Mu, pesta Kerahiman Ilahi pada Hari Minggu pertama sesudah Paskah, Koronka kepada Kerahiman Ilahi dan doa Jam Kerahiman Ilahi.
3. Mengilhami Kerasulan Kerahiman Ilahi yang mewajibkan diri memberitakan dan memohon kerahiman ilahi bagi dunia sambil mengusahakan kesempurnaan dengan cara yang ditunjuk oleh Sr. Faustina, yaitu sikap mengandalkan Allah seperti anak kecil, yang terungkap dalam melaksanakan kehendak-Nya serta sikap penuh belas kasih terhadap setiap sesama.
            Buku Harian Sr. Faustina, yang atas perintah Yesus Kristus ia tulis selama empat tahun terakhir dalam hidupnya, adalah semacam catatan harian; dalam buku ini, penulis merekam kejadian-kejadian yang ia alami atau yang ia renungkan kembali terutama yang berkaitan dengan “perjumpaan-perjumpaan” jiwanya dengan Allah. Diperlukan suatu analisis saksama dan ilmiah atas buku harian ini untuk menarik darinya segala sesuatu yang dianggap hakiki dalam misinya.
            Analisis karya ini dilakukan oleh pakar teologi yang menonjol dan sangat disegani, Pastor Profesor Ignatius Rozycki, Pr. Suatu kesimpulan singkat dari karya ilmiah dan teologisnya diterbitkan dengan judul Kerahiman Ilahi: Ciri-ciri Dasariah Devosi kepada Kerahiman Ilahi, sedangkan teks lengkap tentang devosi ini terdapat dalam bukunya berjudul Devosi kepada Kerahiman Ilahi.
            Dibandingkan dengan karya teologis yang penting ini, semua terbitan terdahulu mengenai devosi Kerahiman Ilahi, yang disampaikan kepada kita oleh Sr. Faustina, tampak hanya berhubungan dengan beberapa unsurnya atau dengan hal-hal yang lebih sekunder. Misalnya, sebagai contoh, penekanan diberikan kepada Litani atau Novena kepada Kerahiman Ilahi, dengan mengesampingkan Jam Kerahiman.
            Pastor Rozycki menarik perhatian kita kepada kenyataan ini dengan berkata, “Sebelum kita sendiri sungguh-sungguh akrab dengan unsur-unsur khas devosi Kerahiman Ilahi, kita perlu memperhatikan bahwa di antara unsur-unsur itu tidak ditemukan novena atau litani yang dikenal dan digemari itu.”

            Alasan utama untuk memilih doa-doa dan praktik religius ini, dan bukan yang lain, sebagai bentuk-bentuk baru devosi Kerahiman Ilahi adalah janji-janji khusus yang dikaitkan dengannya; Tuhan Yesus berjanji akan memenuhinya asalkan orang sungguh mempraktikkannya dengan sikap berharap pada kebaikan dan berbelas kasih kepada sesamanya. Pastor Rozycki menunjukkan bahwa ada lima unsur dalam devosi kepada Kerahiman Ilahi.

Friday, January 8, 2016

Dairi St.Faustina: 1231 - 1250 (Jilid 4)

(1231) Hari ini, Yesus datang untuk tinggal di hatiku. Ia turun dari takhta-Nya di surga. Ia Tuhan yang agung, Pencipta segala sesuatu, Ia datang kepadaku dalam wujud roti.
O Allah yang kekal, yang bersemayam di hatiku, dengan memiliki Engkau, seluruh surga kumiliki, dan bersama para malaikat, aku bernyanyi bagi-Mu: kudus; hidupku hanya untuk kemuliaan-Mu.
Bukan dengan Serafim Engkau menyatukan diri, o Allah, tetapi dengan manusia malang yang tanpa Engkau, tidak dapat melakukan suatu pun; tetapi kepadanya Engkau selalu bersikap rahim.
Hatiku adalah tempat tinggal-Mu, o Raja Kemuliaan Kekal; memerintahlah di hatiku dan jadilah Rajanya, ibarat di suatu istana megah yang tak terlukiskan.
O Allah yang agung, yang tak terselami, Engkau berkenan merendahkan diri sedemikian rupa; dengan bersujud aku menyembah Engkau dan mohon agar dalam kebaikan-Mu menyelamatkan aku.
(1232) O Bunda Allah yang manis, aku ingin menjadikan hidupku seperti hidupmu; bagiku engkau adalah fajar yang cerah; dalam dikau aku tak sadar ‘kan diri karena terpesona.
O Bunda, Perawan yang tak bernoda, cahaya ilahi terpantul dalam dirimu, di tengah badai, engkaulah yang mengajar aku mencintai Tuhan, engkau perisai dan pembelaku terhadap musuh.
Krakow, 10 Agustus 1937.
(1233) Tulisan Suster Maria Faustina dari Sakramen Mahakudus:
O Hosti kudus, sumber kemanisan ilahi, Engkau memberikan kekuatan kepada jiwaku; O Engkau Sang Mahakuasa, yang mengambil daging dari Perawan, secara rahasia Engkau datang ke dalam hatiku, melampaui segala indra serba tak pasti.
Krakow, 10 Agustus 1937 - Buku Harian Empat.
(1234) Segalanya bagi-Mu, ya Yesus. Dengan setiap denyut jantungku, aku ingin menyembah kerahiman-Mu dan, sejauh aku mampu, aku ingin mendorong jiwa-jiwa untuk percaya akan kerahiman itu, sebagaimana Engkau sendiri memrintahkan kepadaku, o Tuhan.
(1235) Dalam hatiku, dalam jiwaku, terjadi suatu malam yang kelam. Rohku membubung, tetapi terhalang oleh tembok yang tak dapat ditembus yang menyembunyikan Engkau dariku. Tetapi, kegelapan ini bukan karena perbuatanku. Memang aneh siksaan ini; aku takut untuk melukiskannya secara lengkap. Tetapi, dalam keadaan ini pun, aku berusaha setia kepada-Mu, o Yesusku. Kapan saja dan dalam hal apa saja, jantungku berdenyut hanya bagi-Mu.
(1236) 10 Agustus 1937. Hari ini, aku kembali dari Rabka ke Krakow. Aku merasa sakit sekali. Hanya Yesus yang tahu seberapa banyak aku menderita. Selama hari ini, aku amat sangat menyerupai Yesus yang tersalib. Aku sudah mempersenjatai diri dengan kesabaran untuk memberikan penjelasan kepada setiap suster mengapa aku tidak tahan berada di Rabka, yakni karena kesehatanku menjadi semakin buruk meskipun aku tahu dengan baik bahwa ada seorang suster yang akan mempertanyakannya, bukan karena simpati terhadap penderitaanku, tetapi karena mau memperberatnya.
(1237) O Yesus, betapa kegelapan meliputi aku dan betapa kehampaan menyelubungi aku. Tetapi, Yesusku, jangan meninggalkan aku sendirian; berilah aku rahmat kesetiaan. Meskipun aku tidak mampu menyelami misteri kunjungan Allah, aku toh dapat berkata: Jadilah kehendak-Mu.
(1238) 12 Austus. Hari ini, Pastor Sopocko mengadakan kunjungan singkat kepadaku ketika ia lewat di Krakow. Sudah lama, aku ingin berjumpa dengan dia, dan Tuhan memenuhi keinginanku. Imam ini adalah orang yang baik, jiwanya sungguh-sungguh dipenuhi dengan kehadiran Allah. Sukacita sungguh luar biasa, dan aku bersyukur kepada Allah atas rahmat yang besar ini sebab demi semakin besarnya kemuliaan Allahlah aku ingin bertemu dengan dia.
(1239) O Hosti yang hidup, o Yesus yang tersembunyi, Engkau tahu keadaan jiwaku. Dari diriku sendiri, aku tidak mampu mengucapkan nama-Mu yang kudus. Aku tidak mampu mengeluarkan api kasih dari hatiku, tetapi sambil berlutut di kaki-Mu, aku mengarahkan tatapan mata kesetiaan. Engkau tidak pernah berubah, sementara dalam jiwaku selalu terjadi perubahan. Aku berharap bahwa akan tiba saatnya Engkau akan menyingkapkan selubung wajah-Mu yang manis. Aku heran, ya Yesus, bahwa Engkau dapat menyembunyikan diri-Mu dariku sedemikian lama dan bahwa Engkau dapat menahan kasih-Mu yang sedemikian besar terhadap aku. Dalam kediaman hatiku, aku sedang mendengarkan dan menantikan kedatangan-Mu, o satu-satunya Harta hatiku!
(1240) Tuhan Yesus sungguh-sungguh melindungi para wakil-Nya di bumi. Betapa eratnya Ia menyatukan diri dengan mereka; dan Ia menyuruh aku lebih mengutamakan pendapat para imam daripada pendapat-Nya. Aku pun telah memahami ikatan yang sedemikian erat antara Yesus dan para imam. Yesus membela apa pun yang dikatakan oleh imam dan sering tunduk kepada keinginan-keinginannya, dan kadang-kadang membuat hubungan-Nya sendiri dengan suatu jiwa bergantung pada nasihat imam. O Yesus, lewat rahmat yang istimewa, aku telah mulai memahami dengan amat jelas sampai sejauh mana Engkau, ya Yesus, telah berbagi kekuasaan dan misteri dengan para imam, lebih daripada dengan para malaikat. Aku bersukacita karena hal ini sebab semua ini Kauatur demi kebaikanku.
(1241) O Yesusku, ketika seseorang bersikap tidak baik dan tidak menyenangkan terhadapku, cukup sulit untuk menanggung penderitaan seperti ini. Tetapi, ini sangatlah kecil kalau dibandingkan dengan penderitaan yang tidak dapat aku tanggung yakni penderitaan yang aku alami ketika seseorang memperlihatkan kebaikan hati terhadapku tetapi kemudian memasang jerat untuk setiap ayunan langkahku. Betapa aku membutuhkan kehendak yang kuat untuk mencintai jiwa seperti itu demi Allah. Sering kali, orang harus berusaha keras untuk mencintai jiwa seperti itu sesuai dengan tuntutan-tuntutan Allah. Kalau kontak dengan orang itu tidak sering terjadi, penderitaan itu akan lebih gampang ditanggung. Tetapi, kalau orang harus menjalin kontak yang sangat sering dengan orang seperti itu, bahkan setiap saat harus berhubungan dengan dia, maka hal ini menuntut usaha yang sangat besar.
(1242) O Yesusku, resapilah aku terus-menerus sehingga aku dapat memancarkan Engkau dalam seluruh hidupku. Ilahikanlah aku supaya perbuatanku dapat memiliki nilai adikodrati. Bantulah aku agar dapat memiliki kasih, kemurahan, dan kerahiman terhadap setiap jiwa tanpa kecuali. O Yesusku, setiap orang kudus-Mu memancarkan salah satu keutamaan-Mu; aku ingin memancarkan hati-Mu yang pemurah, penuh kerahiman; aku ingin memuliakannya. Biarlah kerahiman-Mu, o Yesus, tercetak dalam hatiku dan dalam jiwaku ibarat suatu materai, dan ini akan menjadi lencanaku dalam kehidupan yang sekarang dan yang akan datang. Memuliakan kerahiman-Mu adalah tugas ekslusif untuk hidupku.
15 Agustus 1937. Pengarahan Pastor Andrasz.
(1243) “Pada saat jiwa mengalami kegersangan dan kesadaran yang jelas akan kejahatan dirinya, yang diizinkan oleh Allah, jiwa dapat mengetahui betapa kecilnya yang dapat ia lakukan. Semua itu akan mengajarkan kepadamu betapa tingginya engkau harus menghargai rahmat-rahmat Allah. Kedua, kesetiaan dalam semua latihan dan tugas, kesetiaan dalam segala sesuatu, haruslah sama seperti pada saat sukacita. Ketiga, dalam kaitan dengan masalah-masalah [yang engkau tanyakan], bersikaplah setia mutlak kepada Uskup Agung; dari waktu ke waktu, masalah itu dapat terus dimintakan perhatiannya, tetapi dengan tenang. Kadang-kadang, suatu kebenaran yang sedikit pahit sungguh diperlukan.”
Pada akhir percakapan, aku minta kepada imam ini untuk mengizinkan aku bersatu dengan Yesus seperti yang dulu kulakukan. Ia menjawab, “Aku tidak dapat memberikan perintah kepada Tuhan Yesus, tetapi kalau Ia sendiri menarik engkau kepada diri-Nya, engkau boleh mengikuti tarikan-Nya. Tetapi, ingatlah selalu untuk menunjukkan sikap hormat yang tinggi kepada-Nya karena Tuhan itu sungguh agung. Kalau dalam semua ini engkau sungguh mencari kehendak Allah dan ingin memenuhinya, hatimu akan damai; Tuhan tidak akan membiarkan satu jenis kesesatan pun. Sehubungan dengan mati raga dan penderitaan-penderitaan, dalam pertemuan berikut engkau harus memberikan laporan kepadaku tentang bagaimana engkau melaksanakan semua itu. Tempatkan dirimu dalam tangan Bunda Tersuci.”
(1244) 15 Agustus 1937. Dalam meditasi, kehadiran Allah meresapi aku dengan amat nyata, dan aku menyadari sukacita Perawan Maria pada saat ia diangkat ke surga. Menjelang akhir upacara yang dilaksanakan untuk menghormati Bunda Allah, aku melihat Perawan Maria, dan ia berkata kepadaku, “Oh, betapa senangnya hatiku akan penghormatan kasih kalian.” Dan pada saat itu, ia menyelubungi semua suster anggota Kongregasi ini dengan mantolnya. Kemudian Bunda Allah berkata, “Setiap orang yang dengan teguh bertahan di dalam Kongregasiku sampai mati akan dibebaskan dari Purgatorium, dan aku ingin agar setiap orang unggul dalam keutamaan-keutamaan berikut: kerendahan hati dan kelembutan; kemurnian dan kasih akan Allah serta sesama; kemurahan hati dan kerahiman.” Sesudah kata-kata itu, seluruh Kongregasi menghilang dari pandanganku, dan aku tinggal sendirian bersama Bunda Tersuci yang mengajar aku tentang kehendak Allah dan bagaimana menerapkannya dalam hidup, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada ketetapan-ketetapan-Nya yang mahakudus. Sungguh mustahil bagi seorang pun untuk menyenangkan hati Allah tanpa menaati kehendak kudus-Nya. “Putri-Ku, dengan tegas aku menganjurkan agar engkau dengan setia memenuhi semua kehendak Allah karena itulah yang paling menyenangkan dalam pandangan-Nya yang kudus. Aku sangat rindu agar engkau menjadi unggul dalam kesetiaan memenuhi kehendak Allah. Tempatkan kehendak Allah di atas semua mati raga dan pengurbanan.” Sementara Bunda surgawi berbicara dengan aku, suatu pemahaman yang jelas mengenai kehendak Allah menyusup ke dalam jiwaku.
(1245) Ya Yesusku, nikmat hatiku, ketika jiwaku dipenuhi dengan ke-Allahan-Mu, aku menerima kemanisan dan kepahitan dengan keterbukaan hati yang sama. Yang satu dan yang lain akan berlalu. Yang aku simpan di dalam jiwaku hanyalah kasih akan Allah. Inilah yang selalu aku upayakan; semua yang lain nomor dua.
(1246) 16 Agustus 1937. Sesudah komuni kudus, aku melihat Tuhan Yesus dalam segala keagungan-Nya dan Ia berkata kepadaku, “Putri-Ku, selama pekan-pekan engkau tidak melihat Aku atau tidak merasakan kehadiran-Ku, Aku lebih erat bersatu denganmu daripada waktu [engkau mengalami] ekstase. Dan kesetiaan serta keharuman doamu telah sampai kepadaku.” Sesudah kata-kata itu, jiwaku dilimpahi dengan penghiburan Allah. Aku tidak melihat Yesus, dan pada saat itu hanya sepatah kata yang dapat kuucapkan, “Yesus.” Dan sesudah mengucapkan Nama itu, jiwaku sekali lagi dipenuhi dengan terang dan merasakan kehadiran-Nya yang mengasyikkan yang berlangsung selama tiga hari tanpa terputus. Tetapi, secara lahiriah aku tetap dapat melaksanakan tugas-tugas rutinku.
Aku sungguh tergetar dalam lubuk hatiku yang paling tersembunyi. Kehadiran Allah tidak mengentarkan aku, tetapi membuatku bahagia. Dengan memberikan kemuliaan kepada-Nya, aku sendiri ditinggikan. Dengan menatap kebahagiaan-Nya, aku sendiri menjadi bahagia sebab semua yang ada di dalam Dia mengalir kepadaku.
(1247) Aku beroleh pengetahuan tentang keadaan jiwa tertentu dan tentang apa yang tidak menyenangkan Allah dalam jiwa itu. Aku mempelajarinya dengan cara berikut: biasanya tiba-tiba aku merasa sakit pada tangan, kaki, dan lambungku, yakni di tempat-tempat di mana tangan, kaki dan lambung Juru Selamat ditembus. Pada saat seperti itu, aku menerima pengetahuan tentang keadaan jiwa itu dan tentang hakikat dosa yang dilakukannya.
(1248) Aku merasakan suatu keinginan untuk memberikan doa penyilihan kepada Tuhan Yesus. Maka, hari ini aku mengenakan ikat pinggang rantai selama tujuh jam untuk memperoleh rahmat pertobatan bagi jiwa itu. Pada jam ketujuh, aku merasakan kelegaan ketika jiwa itu secara batin mengalami penghapusan dosanya meskipun ia belum pergi ke pengakuan dosa. Untuk dosa-dosa daging, aku melaksanakan mati raga tubuh dan berpuasa sejauh aku diizinkan. Untuk dosa kesombongan, aku berdoa dengan dahi menyentuh lantai. Untuk dosa-dosa kebencian, aku berdoa dan melakukan sejumlah perbuatan baik untuk orang yang aku rasa sulit. Dengan demikian, aku melaksanakan laku tapa sesuai dengan hakikat dosa yang aku sadari.
(1249) 19 Agustus 1937. Hari ini, dalam adorasi, Tuhan membuatku mengetahui betapa besar keinginan-Nya agar suatu jiwa menonjol dalam perbuatan-perbuatan cinta kasih. Dan dalam roh, aku melihat betapa banyaknya jiwa-jiwa yang berseru kepada kami, “Berikanlah Allah kepada kami.” Maka darah para rasul mendidih di dalam diriku. Aku tidak akan menahannya. Demi jiwa-jiwa yang kekal, aku mau menumpahkan seluruh darahku sampai tetes terakhir. Memang, barangkali Allah tidak akan menuntunnya dalam bentuk fisik, tetapi dalam roh hal itu mungkin dan tidak sedikit pahalanya.

(1250) Hari ini, aku menyadari bahwa untuk hal-hal tertentu aku tidak harus meminta izin, tetapi aku harus menanggapinya sebagaimana Bunda Allah menghendakinya. Untuk saat ini, tidak ada penjelasan yang dibutuhkan; damai telah kembali kepadaku. Aku menerima bisikan ini pada saat aku dalam perjalanan untuk melakukan pemeriksaan batin, dan aku sangat cemas karena aku tidak tahu bagaimana menyikapinya. Dalam sekejap, terang ilahi dapat melakukan lebih banyak daripada yang dapat kulakukan dengan berlelah-lelah selama beberapa hari.

Dairi St.Faustina: 1201 - 1230


(1201) Tetapi, kali ini aku merasa kesehatanku begitu buruk sehingga aku harus tinggal terbaring di tempat tidur. Aku merasakan sakit yang sangat nyeri di seluruh dadaku; aku bahkan tidak mampu menggerakkan tanganku. Pada suatu malam, aku harus berbaring tanpa bergerak sama sekali, sampai-sampai aku merasa bahwa kalau aku bergerak, segala sesuatu dalam paru-paruku akan terkoyak. Malam itu, serasa tiada akhir. Aku menyatukan diriku dengan Yesus yang tersalib, dan aku berdoa kepada Bapa surgawi atas nama orang-orang berdosa. Orang berkata bahwa penyakit paru-paru tidak menyebabkan rasa sakit yang sedemikian nyeri, tetapi aku terus-menerus merasakan sakit yang nyeri itu. Kesehatanku sudah sedemikian buruk sehingga aku harus tetap tinggal di tempat tidur, dan Suster N berkata bahwa aku tidak akan sembuh sebab iklim di Rabka tidak baik untuk setiap orang sakit.
(1202) Hari ini, aku bahkan tidak dapat mengikuti misa kudus atau menyambut komuni kudus. Tetapi, di tengah penderitaan-penderitaan raga dan jiwa, aku terus mengulangi perkataanku, “Kiranya terjadilah kehendak Tuhan. Aku tahu bahwa kemurahan-Mu tidak mengenal batas.” Kemudian, aku mendengar seorang malaikat yang melagukan seluruh riwayat hidupku dan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya. Aku sangat heran, tetapi hatiku diteguhkan.
(1203) Santo Yosef mendesak aku untuk memiliki devosi yang tetap kepadanya. Ia sendiri menyuruh aku mendaraskan tiga doa [Bapa Kami, Salam Maria, dan Kemuliaan] dan Memorare (Ingatlah) sekali setiap hari. Ia memandangku dengan sangat ramah dan membuat aku tahu betapa banyaknya ia mendukung karya [kerahiman] ini. Ia telah menjanjikan kepadaku bantuan dan perlindungan istimewa. Setiap hari, aku mendaraskan doa-doa yang ia minta, dan aku merasakan perlindungan istimewa darinya.
1 Agustus 1937. Rekoleksi Satu Hari.
(1204) Suatu rekoleksi penderitaan. O Yesus, pada hari-hari penderitaan ini, aku tidak mampu berdoa apa pun. Himpitan pada raga dan jiwaku semakin meningkat. O Yesusku, Engkau sungguh menyaksikan bahwa kesehatan anak-Mu ini semakin surut. Aku tidak memaksa diriku lebih lanjut, tetapi hanya menyerahkan kehendakku kepada kehendak Yesus. O Yesus, Engkau selalu menyertai aku.
(1205) Ketika aku pergi ke pangkuan dosa, aku bahkan tidak tahu bagaimana keadaan jiwaku pada saat itu dan berkata kepadaku, “Bagaimana pun juga, engkau berada di jalan menuju keselamatan; engkau berada di jalan yang benar, tetapi Allah dapat membiarkan jiwamu dalam kegelapan dan kekelaman ini sampai kematian, dan terang masa lalu tidak pernah bisa kembali. Tetapi, dalam segala sesuatu, serahkanlah dirimu kepada kehendak Allah.”
(1206) Hari ini, aku memulai suatu novena kepada Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga untuk tiga ujud: pertama, agar aku dapat bertemu dengan Pastor Dr.Sopocko; kedua, agar Allah mempercepat pelaksanaan karya-Nya; dan ketiga, untuk ujud negeriku.
(1207) 10 Agustus. Hari ini, aku kembali ke Krakow, ditemani seorang suster. Jiwaku terhimpit oleh penderitaan. Aku terus-menerus menyatukan diri dengan Dia lewat suatu penyerahan kehendak. Ia adalah kuasa dan kekuatanku.
(1208) Terpujilah Engkau, o Allah, atas segala sesuatu yang Engkau kirimkan kepadaku. Tidak ada suatu pun di bawah matahari terjadi tanpa kehendak-Mu. Aku tidak dapat menyelami rahasia-rahasia-Mu dalam kaitan dengan diriku, tetapi aku menempelkan bibirku erat-erat pada piala yang Kauberikan kepadaku.
(1209) Yesus, Engkau Andalanku.
Novena Kerahiman Ilahi yang diperintahkan Yesus supaya kutulis dan kulaksanakan sebelum Pesta Kerahiman Ilahi. Novena ini dimulai pada Jumat Agung.
“Aku menghendaki agar selama sembilan hari ini engkau membawa jiwa-jiwa ke mata air kerahiman-Ku supaya mereka menimba dari sana kekuatan dan kesegaran serta rahmat apa pun yang mereka butuhkan dalam menghadapi kerasnya hidup dan, khususnya, pada saat kematian. Setiap hari, hendaknya engkau mengantar sekelompok jiwa yang berbeda kepada Hati-Ku. Hendaknya engkau membenamkan mereka di dalam lautan kerahiman-Ku, dan Aku akan membawa semua jiwa ini masuk ke rumah Bapa-Ku. Engkau akan melakukan ini dalam kehidupan ini dan dalam kehidupan yang akan datang. Aku tidak akan menolak apa pun dari jiwa yang engkau bawa ke mata air kerahiman-Ku. Demi kekuatan Sengsara-Ku yang pedih, setiap hari hendaknya engkau minta kepada Bapa-Ku rahmat bagi jiwa-jiwa ini.”
Aku menjawab, “Yesus, aku tidak tahu bagaimana melaksanakan novena ini atau jiwa-jiwa mana yang lebih dulu harus kubawa kepada Hati-Mu yang mahamurah.” Yesus menjawab bahwa Ia akan memberitahukan kepadaku jiwa-jiwa mana yang setiap hari harus kubawa kepada Hati-Nya.
HARI PERTAMA
(1210) “Hari ini, bawalah kepada-Ku seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa, dan benamkanlah mereka ke dalam samudra kerahiman-Ku. Dengan cara ini, engkau akan menghibur Aku dalam jurang kepedihan yang disebabkan oleh hilangnya jiwa-jiwa.”
(1211) Ya Yesus yang maharahim, sedari hakikat-Mu, Engkau mengasihani dan mengampuni kami. Janganlah memperhitungkan dosa-dosa kami, tetapi perhatikanlah keyakinan kami akan kebaikan-Mu yang tak terbatas. Terimalah kami semua dalam Hati-Mu yang maharahim, dan jangan pernah membiarkan kami pergi dari-Nya untuk selamanya. Semua ini kami mohon demi kasih yang menyatukan diri-Mu dengan Bapa dan Roh Kudus.
Oh, Kerahiman Ilahi yang mahakuasa, dan keselamatan orang-orang berdosa, Engkau adalah samudra kerahiman dan belas kasih; Engkau membantu semua orang yang dengan rendah hati memohon pertolongan-Mu.
Bapa yang kekal, dengan tatapan mata-Mu yang penuh kerahiman, pandanglah seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa yang malang, semua yang direngkuh dalam Hati Yesus yang maharahim. Demi Sengsara-Nya yang pedih, tunjukkanlah kerahiman-Mu yang mahakuasa untuk selama-lamanya. Amin.
HARI KEDUA
(1212) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa para imam dan kaum religius, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku yang tak terhingga. Merekalah yang memberi-Ku kekuatan untuk menanggung Sengsara-Ku yang pahit. Lewat mereka, laksana lewat saluran-saluran, kerahiman-Ku mengalir kepada umat manusia.”
(1213) Yesus yang maharahim, sumber segala kebaikan, tingkatkanlah rahmat-Mu di dalam diri kami supaya kami dapat melaksanakan dengan pantas karya-karya kerahiman, dan supaya semua yang melihat kami dapat memuliakan Bapa Kerahiman yang ada di surga.
Mata air kasih Allah ada di dalam hati yang murni, terbenam dalam Samudra Kerahiman, bersinar laksana bintang-bintang, cemerlang laksana fajar.
Bapa yang kekal, dengan tatapan mata-Mu yang maharahim, pandanglah himpunan orang-orang terpilih yang bekerja di kebun anggur-Mu; pandanglah jiwa-jiwa para imam dan kaum religius; dan limpahilah mereka dengan kekuatan berkat-Mu. Dalam Hati Putra-Mu, mereka direngkuh; demi kasih Hati-Nya, berikanlah kepada mereka kekuatan dan terang-Mu supaya mereka dapat menuntun orang lain di jalan menuju keselamatan dan dengan sesuara memuji kerahiman-Mu yang tidak terbatas sepanjang segala abad. Amin.
HARI KETIGA
(1214) “Hari ini, bawalah kepada-Ku semua jiwa yang saleh dan setia, dan benamkan mereka dalam lautan kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini memberikan penghiburan kepada-Ku di sepanjang Jalan Salib. Mereka adalah tetes penghiburan di tengah lautan kepahitan.”
(1215) Yesus yang maharahim, dari khazanah kerahiman-Mu, Engkau memberikan rahmat yang berlimpah ruah kepada semua orang. Perkenankanlah kami tinggal di dalam Hati-Mu yang maharahim dan jangan biarkan kami pernah terlepas dari sana untuk selamanya. Semua ini kami mohon kepada-Mu demi kasih-Mu yang paling mengagumkan terhadap Bapa surgawi yang membuat Hati-Ku sedemikian bernyala-nyala.
Mukjizat-mukjizat kerahiman sungguh tak terselami. Baik orang berdosa maupun orang benar tidak akan memahaminya. Setiap kali Engkau memandang kami dengan penuh belas kasih, Engkau menarik kami lebih erat kepada kasih-Mu.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu yang Maharahim kepada jiwa-jiwa yang setia, sebagai harta pusaka Putra-Mu. Demi Sengsara-Nya yang pedih, limpahkanlah berkat-Mu kepada mereka, dan dengan perlindungan-Mu yang lestari, rengkuhlah mereka. Dengan demikian, mereka tidak pernah akan gagal dalam olah kasih dan tidak pernah akan kehilangan harta iman yang kudus; sebaliknya, bersama segenap paduan para malaikat dan para kudus, mereka akan memuliakan kerahiman-Mu yang tak terbatas sepanjang segala abad. Amin.
HARI KEEMPAT
(1216) “Hari ini, bawalah kepada-Ku orang-orang yang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Aku. Dalam Sengsara-Ku yang pedih, Aku juga memikirkan mereka, dan semangat mereka di masa depan meneguhkan Hati-Ku. Benamkanlah mereka dalam lautan kerahiman-Ku.”
(1217) Ya Yesus yang Maharahim, Engkau adalah Terang seluruh dunia. Terimalah dalam Hati-Mu yang Maharahim jiwa orang-orang yang tidak beriman, yang belum mengenal Engkau. Biarlah sinar rahmat-Mu menerangi mereka sehingga mereka pun, bersama kami, dapat mengagungkan kerahiman-Mu yang mengagumkan; dan jangan biarkan mereka tersingkir dari kediaman Hati-Mu yang Maharahim.
Kiranya sinar kasih-Mu menerangi jiwa-jiwa yang berada dalam kegelapan; buatlah jiwa-jiwa ini mengenal Engkau dan bersama dengan kami memuji kerahiman-Mu.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu yang maharahim kepada jiwa orang-orang yang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Engkau, tetapi sudah direngkuh dalam Hati Yesus yang Maharahim. Tariklah mereka kepada terang Injil. Jiwa-jiwa ini belum tahu betapa besarnya kebahagiaan orang yang mengasihi Engkau. Berikanlah rahmat-Mu kepada mereka, agar mereka pun dapat mengagungkan kerahiman-Mu yang mahamurah sepanjang segala abad. Amin.
HARI KELIMA
(1218) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa orang-orang yang sesat dan memisahkan diri dari Gereja, dan benamkanlah mereka dalam lautan kerahiman-Ku. Setiap kali mereka mencabik-cabik Tubuh dan Hati-Ku, yakni Gereja-Ku, Aku merasakan Sengsara yang pedih. Begitu mereka kembali kepada kesatuan dengan Gereja, luka-luka-Ku menjadi sembuh, dan dengan cara ini mereka meringankan Sengsara-Ku.”
Bahkan bagi mereka yang sudah mengoyakkan busana kesatuan-Mu, arus kerahiman-Mu yang mahakuasa, oh Allah, dapat mengantar jiwa-jiwa ini keluar dari kesesatan.
(1219) Yesus yang Maharahim, Sang Kebaikan itu sendiri, Engkau tidak pernah menutup terang-Mu bagi mereka yang memintanya dari-Mu. Sambutlah jiwa-jiwa para bidah dan orang-orang yang memisahkan diri dari Gereja dalam naungan Hati-Mu yang maharahim. Dengan terang-Mu, tariklah mereka ke dalam kesatuan Gereja, dan jangan biarkan mereka memisahkan diri dari Hati-Mu yang Maharahim; tetapi perkenankanlah mereka pun menyembah kerahiman-Mu yang mahamurah.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu yang maharahim kepada jiwa-jiwa para bidah dan orang-orang yang memisahkan diri dari Gereja; dengan berkeras hati di dalam kesesatan-kesesatan mereka telah menyia-nyiakan berkat-Mu dan menyalahgunakan rahmat-Mu. Janganlah memandang kesalahan-kesalahan mereka, tetapi pandanglah kasih Putra-Mu sendiri, dan pandanglah juga Sengsara-Nya yang pedih, yang Ia jalani demi mereka karena mereka pun memuliakan kerahiman-Mu yang agung sepanjang segala masa. Amin.
HARI KEENAM
(1220) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak kecil, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling menyerupai Hati-Ku. Di saat Aku menjalani sakratulmaut yang pedih, mereka menguatkan Aku. Aku melihat mereka sebagai malaikat di bumi, yang akan berjaga di dekat semua altar-Ku. Ke atas mereka, Aku mencurahkan seluruh limpahan rahmat. Hanya jiwa-jiwa yang rendah hati yang dapat menerima rahmat-Ku. Dengan kerahiman-Ku Aku mengasihi jiwa-jiwa yang rendah hati.”
(1221) Yesus yang Maharahim, Engkau sendiri telah berkata, “Belajarlah dari-Ku sebab Aku ini lemah lembut dan rendah hati.” Terimalah dalam kediaman Hati-Mu yang maharahim semua jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak kecil. Jiwa-jiwa ini membuat surga terpesona, dan mereka adalah kesayangan Bapa surgawi. Mereka ibarat rangkaian bunga yang harum mewangi di hadapan takhta Allah; Allah sendiri bersukacita atas keharuman mereka. Jiwa-jiwa ini memiliki kediaman lestari di dalam Hati-Mu yang maharahim, dan tak henti-hentinya mereka melagukan madah kasih serta kerahiman.
(1222) Suatu jiwa yang sungguh lemah lembut dan rendah hati sudah menghirup udara Firdaus di bumi, dan karena keharuman orang yang rendah hati, Sang Pencipta sendiri bersukacita.
(1223) Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu yang maharahim kepada jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati, serta kepada jiwa anak-anak kecil, yang dihimpun di dalam Hati Yesus yang Maharahim. Jiwa-jiwa ini paling menyerupai Putra-Mu. Keharuman mereka membubung dari bumi dan mencapai takhta-Mu sendiri. Bapa yang maharahim dan mahabaik, berkat kasih-Mu terhadap jiwa-jiwa ini dan berkat kesukaan yang Engkau nikmati karena mereka, aku mohon kepada-Mu: berkatilah seluruh dunia, agar semua jiwa bersama-sama melambungkan madah kerahiman-Mu sepanjang segala abad. Amin.
HARI KETUJUH
(1224) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kerahiman-Ku, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling menderita karena menyaksikan Sengsara-Ku, dan mereka masuk paling dalam ke dalam Roh-Ku. Mereka adalah gambar yang hidup dari Hati-Ku yang Maharahim. Dalam kehidupan yang akan datang, jiwa-jiwa ini akan bersinar dengan kecemerlangan istimewa. Tidak seorang pun dari mereka akan terjerumus ke dalam api neraka. Secara istimewa, Aku akan membela setiap orang dari mereka pada saat kematiannya.”
(1225) Yesus yang Maharahim, Hati-Mu adalah Sang Kasih itu sendiri. Terimalah ke dalam kediaman Hati-Mu yang Maharahim jiwa orang-orang yang secara istimewa mengagungkan kerahiman-Mu dan menghormati keagungannya. Karena kekuatan Allah sendiri, jiwa-jiwa ini sungguh perkasa. Di tengah segala penindasan dan penderitaan, mereka melangkah maju penuh kepercayaan akan kerahiman-Mu. Jiwa-jiwa ini bersatu dengan Dikau dan memikul seluruh umat manusia pada bahu mereka. Jiwa-jiwa ini tidak akan dihakimi dengan kejam tetapi pada saat ajalnya, mereka akan direngkuh oleh kerahiman-Mu.
Jiwa yang memuji kebaikan Tuhan, dikasihi oleh-Nya secara istimewa. Ia selalu dekat dengan mata air yang hidup dan menimba rahmat dari Kerahiman Ilahi.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu yang maharahim kepada jiwa-jiwa yang memuliakan dan menghormati sifat-Mu yang paling tinggi, yakni kerahiman-Mu yang taiada tara, dan yang dihimpun dalam Hati Yesus yang maharahim. Jiwa-jiwa ini adalah Injil yang hidup; tangan mereka penuh dengan karya kerahiman, dan roh mereka, yang meluap-luap dengan sukacita, melambungkan kidung kerahiman kepada-Mu, o Yang Mahatinggi! Aku mohon, ya Allah: tunjukkanlah kerahiman-Mu kepada mereka sesuai dengan harapan dan kepercayaan mereka kepada-Mu. Dalam diri mereka, biarlah digenapi janji-janji Yesus bagi mereka, “Jiwa-jiwa yang menghormati kerahiman-Ku yang tiada tara akan Kubela sebagai kemuliaan-Ku sendiri sepanjang hayat mereka, khususnya pada saat kematian mereka.”
HARI KEDELAPAN
(1226) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium, dan benamkanlah mereka dalam lubuk kerahiman-Ku. Biarlah banjir Darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa ini sangat Kukasihi. Mereka sedang melunasi hukuman-Ku yang adil. Engkau memiliki kekuatan untuk meringankan mereka. Ambillah segala indulgensi dari khazanah Gereja-Ku dan persembahkanlah semua itu demi mereka. Oh, kalau saja engkau tahu siksaan yang mereka derita, engkau akan terus-menerus mempersembahkan bagi mereka kemurahan hati dan melunasi utang mereka kepada keadilan-Ku.”
(1227) Yesus yang Maharahim, Engkau sendiri telah berkata bahwa Engkau menginginkan kerahiman; aku membawa ke kediaman Hati-Mu yang Maharahim jiwa-jiwa yang sangat Engkau kasihi, tetapi sekaligus harus melunasi hukuman yang dijatuhkan oleh keadilan-Mu. Semoga aliran Darah dan Air yang memancar dari Hati-Mu memadamkan nyala api yang memurnikan itu, supaya di tempat itu pun kuasa kerahiman-Mu dapat dimuliakan.
Dari panas Purgatorium yang mengerikan, naiklah suatu rintihan kepada kerahiman-Mu, dan dalam aliran darah bercampur air mereka menerima penghiburan, kesegaran, kelegaan.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu kepada jiwa-jiwa yang menerita di Purgatorium, yang direngkuh dalam Hati Yesus yang Maharahim. Berkat Sengsara Putra-Mu yang pedih, dan demi semua kepahitan yang melanda Jiwa Yesus yang mahakudus, aku mohon kepada-Mu, sudilah menyatakan kerahiman-Mu kepada jiwa-jiwa yang sedang Engkau pandang dengan mata-Mu yang adil. Pandanglah mereka hanya melalui luka-luka Yesus, Putra-Mu yang terkasih; karena kami sungguh percaya bahwa di sini tidak ada batas untuk kebaikan dan kemurahan-Mu.
HARI KESEMBILAN
(1228) “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang suam-suam kuku, dan benamkanlah mereka di dalam lubuk kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling nyeri melukai Hati-Ku. Karena jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini, jiwa-Ku merasakan kejijikan yang paling mengerikan di Taman Getsemani. Merekalah yang menyebabkan Aku berseru kepada Bapa, ‘Bapa, ambillah piala ini dari-Ku, kalau ini memang kehendak-Mu!’ Bagi mereka, harapan terakhir untuk selamat adalah berlari kepada kerahiman-Ku.”
(1229) Yesus yang Maharahim, Engkau adalah Sang Kerahiman itu sendiri. Aku membawa jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini ke kemah Hati-Mu yang Maharahim. Dalam api kasih-Mu yang paling murni ini, biarlah jiwa-jiwa yang beku ini, yang seperti mayat ini, yang dipenuhi dengan kejijikan ini, dapat dihidupkan kembali. O Yesus yang Maharahim, tunjukkanlah kerahiman-Mu yang mahakuasa dan tariklah mereka ke dalam nyala kasih-Mu; limpahkanlah atas mereka karunia kasih yang kudus karena bagi kuasa-Mu tidak ada hal yang mustahil.
Api dan es tak dapat berpadu; entah api yang mati, entah es yang leleh. Tetapi berkat kerahiman-Mu, o Allah, Engkau dapat memulihkan dalam diri semua orang apa saja yang sudah hilang.
Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu kepada jiwa-jiwa yang suam-suam kuku, yang bagaimana pun sudah direngkuh dalam Hati Yesus yang Maharahim. Bapa Kerahiman, berkat Sengsara Putra-Mu yang pedih dan berkat sakratulmaut-Nya selama tiga jam di kayu salib, aku mohon kepada-Mu: Biarlah mereka pun memuliakan lubuk kerahiman-Mu ...
(1230) O hari yang kekal, o hari yang begitu lama dirindukan, dengan damba dan dahaga, mataku mencari-cari engkau. Tak lama lagi kasih akan menggoyakkan selubung, dan engkau akan tampak sebagai hari keselamatanku.
O hari yang paling indah, saat yang tiada bandingnya, saat untuk pertama kalinya aku akan melihat Allahku, Mempelai jiwaku dan Tuhan para tuan, saat ketakutan tidak akan membelenggu jiwaku.
O hari yang paling semarak, o hari yang paling cemerlang, saat jiwa akan mengenal Allah dalam kemahakuasaan-Nya, dan membenamkan diri sepenuhnya dalam kasih-Nya, sambil menyadari bahwa kepapaan pembuangan sudah berakhir.
O hari yang membahagiakan, o hari yang mulia, saat hatiku akan bernyala bagi-Mu dengan api abadi; meski sekarang aku merasakan kehadiran-Mu namun masih terselubung, di balik hidup dan kematian, o Yesus, Engkaulah pesona dan kesukaanku.
O hari yang kudambakan sepanjang hayatku, sembari menantikan Engkau, o Allah, karena hanya Engkalah yang aku rindukan. Engkaulah satu-satunya milik hatiku; semua yang lain adalah semu.
O hari kesukaan, hari kebahagiaan abadi, Allah yang Mahaagung, Mempelaiku yang terkasih, Engkau tahu tidak suatu pun akan memuaskan hati yang masih perawan. Pada Hati-Mu yang mesra, tatapan mataku bertumpu.
[Akhir Buku Harian Jilid 3]

Dairi St.Faustina: 901 - 950

(901) Ada seseorang yang menguji kesabaranku. Aku harus membuang banyak waktu untuk dia. Apabila aku berbicara dengan dia, aku merasa bahwa ia membual, dan ini terus menerus terjadi. Ia menceritakan kepadaku hal-hal yang terjadi jauh di tempat lain, yang tidak dapat aku buktikan kebenarannya. Karena itu, ia dapat lolos dengan kebohongannya. Tetapi dalam hati aku yakin bahwa tidak ada kebenaran dalam apa yang ia katakan. Pernah aku merasa bimbang, jangan-jangan aku salah dan ia mengatakan kebenaran; maka aku minta kepada Tuhan Yesus untuk memberi aku tanda berikut: kalau ia sungguh berbohong, biarlah ia sendiri menyatakan kepadaku bahwa ia telah berbohong mengenai sesuatu hal yang aku yakini bahwa ia sudah berbohong. Dan kalau ia mengatakan kebenaran, biarlah Tuhan Yesus mengambil keyakinan itu dariku bahwa ia bohong. Sesaat kemudian, ia datang lagi kepadaku dan berkata, “Suster, aku minta ampunmu karena aku telah berbohong mengenai ini dan itu.” Dengan demikian, aku tahu bahwa terang batinku mengenai orang itu tidak menyesatkan aku.
(902) 29 Januari 1937. Hari ini, aku tidur terlalu lama. Kalau saja aku tidur sedikit lebih lama lagi, aku akan terlambat untuk menyambut komuni kudus karena kapel agak jauh dari paviliun kami. Ketika aku keluar kamar, salju sudah setinggi lutut. Tetapi sebelum aku berpikir bahwa dokter tentu akan melarang aku keluar dalam suasana bersalju seperti itu, aku sudah sampai pada Tuhan di kapel. Aku menerima komuni kudus dan kembali dengan cepat sekali. Aku mendengar kata-kata di dalam jiwaku, “Putri-Ku, beristirahatlah di dekat Hati-Ku. Aku tahu semua usahamu.” Jiwaku lebih bersukacita ketika aku berada di dekat Hati Allahku.
30 Januari 1937. Retret Satu Hari
(903) Aku berusaha agar semakin hari aku makin mengetahui kebesaran Allah dan makin bersukacita di dalam Dia. Terus menerus aku tinggal bersama Dia di dalam lubuk hatiku. Dalam jiwaku sendirilah aku paling mudah menemukan Allah.
(904) Dalam meditasiku, aku mendengar kata-kata ini, “Putri-Ku, dengan sabar menyerahkan diri kepada kehendak-Ku, engkau memberi-Ku kemuliaan yang paling besar, dan engkau memperoleh bagi dirimu sendiri pahala yang lebih besar daripada yang dapat engkau peroleh lewat puasa atau mati raga mana pun. Ketahuilah, Putri-Ku bahwa kalau engkau menundukkan kehendakmu kepada kehendak-Ku, engkau menarik perkenan istimewa-Ku atas dirimu. Pengurbanan ini menyenangkan hati-Ku dan sangat manis rasanya. Aku sangat puas menikmatinya; ada kekuatan di dalamnya.”
(905) Pemeriksaan batin: masih tetap sama, yakni menyatukan diri dengan Kristus yang maharahim. Caranya, lewat keheningan batin dengan mematuhi silentium secara ketat.
(906) Apabila mengalami saat-saat sulit, aku akan mengarahkan tatapan mataku ke Hati Yesus yang tinggal diam, yang terentang di salib; dari letupan nyala Hati-Nya yang maharahim akan mengalir kepadaku daya dan kekuatan untuk terus berjuang.
(907) Adalah hal yang luar biasa [bahwa] pada musim dingin seekor kenari hinggap di jendela kamarku dan berkicau indah selama beberapa waktu. Aku berusaha menyelidiki apakah ada seekor kenari dalam sangkar di sekitar tempat itu, tetapi sama sekali tidak ada, bahkan juga di gedung terdekat. Salah seorang pasien lain juga mendengarnya, tetapi hanya sekali, dan heran bagaimana seekor kenari berkicau di musim dingin seperti ini.
(908) O Yesus, betapa sedihnya hatiku menyaksikan orang-orang berdosa yang malang. Yesus, berilah mereka tobat dan penyesalan. Ingatlah akan sengsara-Mu yang pedih itu. Aku mengenal kerahiman-Mu yang tak terbatas dan aku tidak tahan bahwa suatu jiwa yang telah Kautebus dengan harga yang begitu mahal akan binasa. Yesus, berikan kepadaku jiwa orang-orang berdosa; biarlah kerahiman-Mu beristirahat dalam diri mereka. Ambillah segala sesuatu yang ada padaku, tetapi berikanlah jiwa-jiwa itu kepadaku. Aku ingin menjadi hosti-kurban bagi orang-orang berdosa. Biarlah kulit tubuhku menyembunyikan persembahanku ini sebab Hati-Mu yang Mahakudus juga bersembunyi di dalam Hosti, padahal Engkau adalah kurban yang hidup.
            Ubahlah aku menjadi diri-Mu sendiri, o Yesus, sehingga aku dapat menjadi kurban yang hidup dan menyenangkan bagi-Mu. Setiap saat aku ingin memberikan penyilihan bagi orang-orang berdosa yang malang itu. Kurban yang dipersembahkan oleh rohku tersembunyi di balik selubung tubuhku; mata insan tidak dapat menangkapnya, dan karena itulah kurbanku murni dan menyenangkan Engkau. O Pencipta dan Bapaku yang maharahim, aku berharap kepada-Mu karena Engkau adalah Sang Kebaikan. Hai jiwa-jiwa, jangan takut akan Allah, tetapi andalkanlah Dia karena Ia baik, dan kerahiman-Nya berlangsung selama-lamanya.
(909) O Tuhan, Engkau tinggal di dalam hatiku; maka kita saling mengenal. Sungguh, sekarang akulah yang menyambut Engkau sebagai Tamu dalam rumah hatiku yang mungil, tetapi saatnya mendekat Engkau akan akan memanggilku ke tempat kediaman-Mu, yang sudah Engkau siapkan bagiku sejak awal dunia. Oh, apakah diriku dibandingkan dengan Engkau, o Tuhan?
(910) Tuhan menuntunku ke dalam dunia yang tidak kukenal. Ia memperkenalkan rahmat-Nya yang besar kepadaku, tetapi aku takut akan rahmat itu dan sejauh ada dalam batas kekuatanku, aku tidak mau menyerahkan diri kepada pengaruhnya, sampai aku diyakinkan oleh pembimbing rohaniku rahmat macam apa itu.
(911) Sekali peristiwa, kehadiran Allah meliputi seluruh hidupku, dan secara misterius akal budiku beroleh pencerahan untuk memahami Jati Diri-Nya. Ia mengizinkan aku memahami kehidupan batin-Nya. Dalam roh, aku melihat ketiga Pribadi Ilahi, tetapi kodrat Mereka adalah Satu. Allah itu Satu, Sungguh Esa, tetapi dalam Tiga Pribadi; tidak satu pun dari Mereka lebih besar atau lebih kecil; tidak ada perbedaan baik dalam keindahan maupun kekudusan Mereka sebab Mereka itu Satu. Mereka sungguh-sungguh Satu. Kasih-Nya mengantar aku ke dalam pengetahuan ini dan menyatukan aku dengan Diri-Nya. Ketika aku bersatu dengan Pribadi yang satu, aku juga bersatu dengan Pribadi yang kedua dan dengan Pribadi yang ketiga sedemikian rupa sehingga ketika kita bersatu dengan yang pertama, kita juga bersatu dengan kedua Pribadi yang lain sama seperti dengan yang pertama. Kehendak Mereka adalah satu, satu Allah meskipun Pribadinya tiga. Ketika Satu dari ketiga Pribadi itu berkomunikasi dengan suatu jiwa, lewat kuasa kehendak yang satu, jiwa itu menyadari diri bersatu dengan ketiga Pribadi dan diliputi kebahagiaan yang mengalir dari Tritunggal yang Mahakudus; itulah pula kebahagiaan yang menjadi santapan para kudus. Kebahagiaan yang sama, yang mengalir dari Tritunggal yang Mahakudus, membuat semua ciptaan merasa bahagia; darinya muncul kehidupan yang menghidupkan dan memberkati segala kehidupan yang berasal dari Dia. Pada saat-saat seperti ini, jiwaku mengalami nikmat ilahi yang sedemikian besar sehingga aku mengalmi kesulitan untuk mengungkapkannya.
(912) Kemudian aku mendengar kata-kata yang dirumuskan; inilah kata-kata itu, “Aku menghendaki engkau menjadi mempelai-Ku.” Ketakutan menyusup ke dalam jiwaku, tetapi dengan tenang aku terus merenungkan ikatan macam apa yang dapat terjadi? Tetapi, setiap kali ketakutan menyusup ke dalam jiwaku, suatu kekuatan dari atas memberikan damai kepada jiwaku.
            Bagaimana pun juga, aku sudah mengikrarkan kaul kekal, dan aku telah mengikrarkannya atas dasar kehendakku sendiri yang sama sekali bebas. Maka aku terus merenungkan apakah artinya. Aku merasa dan mulai menyadari, bahwa ini adalah suatu rahmat yang istimewa. Setiap kali memikirkannya, aku serasa pingsan karena Allah; tetapi dalam keadaan pingsan ini, pikiranku jelas dan diliputi dengan terang. Ketika aku menyatukan diri dengan Dia, aku pingsan karena kebahagiaan yang luar biasa, tetapi pikiranku begitu cerah dan jelas serta bebas dari sagala bayangan. Engkau turun meninggikan keagungan-Mu untuk tinggal bersama dengan ciptaan yang papa ini. Syukur kepada-Mu, o Tuhan, karena rahmat agung ini, yang memungkinkan aku bersekutu dengan-Mu. Yesus, Nama-Mu adalah nikmatku; dari jauh aku merasakan kehadiran Kekasihku, dan jiwaku yang merana menemukan ketenangan dalam pelukan-Nya; aku tidak tahu bagaimana hidup tanpa Dia. Aku lebih senang bersama dengan Dia dalam penindasan dan penderitaan daripada tanpa Dia berada dalam nikmat surgawi yang paling besar.
(913) 2 Februari 1937. Hari ini, sejak pagi-pagi buta, Keheningan ilahi meresapi jiwaku. Dalam misa, aku berpikir bahwa aku akan melihat Yesus yang kecil, seperti sering kualami; tetapi, hari ini, dalam misa kudus, aku melihat Yesus yang tersalib. Yesus dipaku pada salib dan menjalani sakratulmaut yang berat. Penderitaan-Nya menusuk aku, jiwa dan raga, dengan cara yang tak kelihatan, tetapi sungguh amat nyeri. Oh, betapa mengagumkan misteri yang terjadi selama misa!
(914) Suatu misteri yang agung dihadirkan dalam misa kudus. Dengan sikap hormat yang amat besar, kita harus mengikuti misa dan mengambil bagian dalam kematian Yesus ini. Pada suatu hari, kita akan mengetahui apa yang dikerjakan Allah untuk kita dalam setiap misa dan anugerah apa yang disediakan-Nya untuk kita. Hanya kasih ilahi-Nya yang memungkinkan karunia sebesar itu disediakan bagi kita. O Yesus, Yesusku, betapa nyeri rasa sakit yang menembus jiwaku ketika aku melihat sumber kehidupan ini mengalirkan kemanisan dan kekuatan bagi setiap jiwa, sementara pada saat yang sama aku melihat jiwa-jiwa menjadi layu dan mengeringkan karena kesalahan mereka sendiri. O Yesus, berilah agar kuasa kerahiman merengkuh jiwa-jiwa itu.
(915) O Maria, hari ini suatu pedang yang mengerikan menembus jiwamu yang kudus. Selain Allah, tidak seorang pun mengetahui penderitaanmu. Jiwamu tidak hancur; jiwamu berani sebab ia bersama dengan Yesus. Bunda yang manis, satukan jiwaku dengan Yesus sebab hanyalah dengan demikian aku akan mampu bertahan dalam segala pencobaan dan kesusahan, dan hanya dalam kesatuan dengan Yesus kurban-kurban kecilku akan menyenangkan Allah. Bunda yang amat manis, teruslah mengajar aku tentang kehidupan batin. Semoga pedang penderitaan tidak pernah menghancurkan aku. O Perawan yang murni, curahkanlah keberanian ke dalam hatiku dan jagalah dia.
(916) Hari ini sangatlah istimewa bagiku; meskipun aku menghadapi begitu banyak penderitaan, jiwaku dilimpahi dengan sukacita yang besar. Dalam kamar pribadi di sebelah kamarku, terbaring seorang perempuan Yahudi yang sakit parah. Tiga hari yang lalu, aku pergi menengok dia dan hatiku sangat sedih membayangkan bahwa ia akan segera meninggal tanpa jiwanya dibersihkan oleh rahmat pembaptisan. Aku membuat kesepakatan dengan perawatnya, seorang Suster [biarawati] supaya kalau saat ajalnya sudah mendekat, ia berkenan membaptisnya. Tetapi ada kesulitan berikut, yakni bahwa di sana selalu ada beberapa orang Yahudi yang menemaninya. AKu merasa terdorong untuk berdoa di hadapan Gambar Kerahiman Ilahi yang diminta Yesus kepadaku dilukis. Aku mempunyai suatu brosur dengan Gambar Kerahiman Ilahi pada sampulnya. Dan aku berkata kepada Tuhan, “Yesus, Engkau sendiri mengatakan kepadaku bahwa Engkau akan memberikan banyak rahmat lewat gambar ini. Maka, aku mohon kepada-Mu, rahmat pembaptisan untuk perempuan Yahudi ini. Tidak masalah siapa yang akan membaptisnya, asal saja ia dibaptis.”
            Sesudah berkata demikian, aku merasakan damai yang luar biasa dalam hatiku, dan aku sangat yakin bahwa kendati ada banyak kesulitan, air baptis akan dicurahkan atas jiwanya. Malam itu, ketika kesehatannya sangat merosot, aku turun dari tempat tidur tiga kali untuk menengok dia, sambil mencari kesempatan yang tepat untuk memberikan rahmat pembaptisan kepadanya. Keesokkan harinya, tampaknya ia merasa sedikit lebih baik. Pada petang hari, saat terakhir telah mendekat baginya. Suster yang merawatnya berkata bahwa pembaptisan akan sulit dilaksanakan kerean mereka mendampingi dia. Saatnya pun tiba ketika perempuan yang sakit itu mulai kehilangan kesadaran, dan akibatnya, untuk menyelamatkan dia, mereka mulai lari berhamburan; beberapa [pergi] menjemput dokter, sedangkan yang lain pergi ke arah yang lain untuk mencari pertolongan.
            Jadi, pasien ditinggalkan sendirian, dan Suster membaptisnya, dan sebelum mereka semua kembali, jiwanya sudah indah, dihiasi dengan rahmat Allah. Sakratulmautnya yang terakhir pun tiba-tiba dimulai, tetapi itu tidak berlangsung lama. Seolah-olah ia tertidur. Sekonyong-konyong, aku melihat jiwanya naik ke surga dengan keindahan yang menakjubkan. Oh, betapa indahnya jiwa yang menyandangkan rahmat pengudus! Sukacita membanjiri hatiku bahwa di hadapan gambar ini aku telah menerima rahmat Yesus yang begitu besar bagi jiwa ini.
(917) Oh, betapa besarnya kerahiman Allah; hendaklah setiap jiwa memujinya. O Yesusku, untuk selama-lamanya jiwa itu akan melambungkan bagi-Mu madah kerahiman. Aku tidak akan melupakan kesan yang hari ini digoreskan pada jiwaku. Inilah rahmat agung kedua yang telah aku terima untuk jiwa-jiwa di sini, di hadapan gambar ini.
            Oh, betapa baiknya Tuhan, dan betapa penuh belas kasihan Ia; Yesus, dengan segenap hati aku bersyukur kepada-Mu atas rahmat-rahmat ini.
(918) 5 Februari 1937. Yesusku, bagaimana pun juga, aku ingin sekali menyatukan diri dengan-Mu. Yesus, kalau ini mungkin, ambillah aku kepada diri-Mu karena aku merasa bahwa hatiku akan terbakar karena menrindukan Engkau!
            Oh, betapa aku merasakan bahwa aku berada di dalam pembuangan! Kapan aku akan mendapati diriku tinggal di rumah Bapa kita, sambil bersukacita dalam kebahagiaan yang mengalir dari Tritunggal yang mahakudus? Tetapi, kalau memang sudah menjadi kehendak-Mu bahwa aku masih harus hidup dan menderita, aku merindukan apa yang sudah Engkau tetapkan bagiku. Tahanlah aku di bumi ini selama Kauinginkan, bahkan sampai ke akhir dunia sekalipun. O kehendak Tuhanku, jadilah sukacita dan pesona jiwaku. Meskipun bumi ini sedemikian penuh dengan manusia, aku sungguh merasa sendirian, dan bumi menjadi padang gurun yang menakutkan bagiku. O Yesus, Engkau tahu dan memahami kepanasan hatiku; hanya Engkau, o Tuhan, dapat memenuhi keinginanku.
(919) Hari ini, aku memperingatkan seorang gadis agar ia tidak berdiri berjam-jam di lorong bersama kaum laki-laki karena tidak pantas bagi perempuan muda yang sopan untuk berbuat demikian. Maka, ia minta maaf dan berjanji akan memperbaiki diri. Ia mulai menangis ketika ia menyadari keteledorannya. Ketika aku mengatakan kepadanya beberapa hal mengenai perilaku moral, semua laki-laki dari aula datang berkerumun dan mendengarkan kata-kata nasihatku. Bahkan orang-orang Yahudi itu mendengarkan beberapa hal mengenai diri mereka sendiri. Sesudah itu, seseorang berkata kepadaku bahwa mereka memasang telinga dari balik tembok dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Memang, aku merasakan bahwa mereka mendengarkan, tetapi aku tetap mengatakan apa yang harus kukatakan. Tembok itu sedemikian tipis sehingga suara orang dapat didengar, juga kalau ia berbicara dengan suara lembut.
(920) Di sini, ada seorang perempuan yang dulu adalah salah seorang siswa kami. Seperti biasa, ia menguji kesabaranku. Beberapa kali sehari ia datang mengunjungi aku. Sesudah tiap kunjungan ini aku merasa letih, tetapi aku melihat bahwa Tuhan Yesus telah mengirim jiwa ini kepadaku. Biarlah segala sesuatu memuliakan Engkau, o Tuhan. Kesabaran memberikan kemuliaan kepada Allah. Oh, betapa malangnya jiwa-jiwa itu!
(921) 6 Februari 1937. Hari ini, Tuhan berkata kepadaku, “Putri-Ku, Aku mendengar bahwa ada banyak kesederhanaan dalam dirimu; karena itu mengapa engkau tidak menceritakan kepada-Ku segala sesuatu yang terjadi atas dirimu, juga hal-hal yang paling kecil? Ceritakan segala sesuatu kepada-Ku, dan ketahuilah hal ini akan memberikan sukacita yang besar kepada-Ku.” Aku menjawab, “Tetapi, Engkau mengetahui segala sesuatu, Tuhan.” Dan Yesus menjawab kepadaku, “Memang, Aku tahu; tetapi hendaknya engkau tidak berdalih dengan memanfaatkan kenyataan bahwa Aku sudah tahu. Dengan kesederhanaan seorang anak, katakanlah kepada-Ku segala sesuatu karena telinga dan Hati-Ku Kusendengkan kepadamu, dan kata-katamu menyenangkan Hati-Ku.”
(922) Hari ini, aku memulai novena besar dengan tiga ujud. Ketika memulai novena ini, aku melihat seekor serangga kecil di lantai dan aku berpikir: bagaimana ia sampai di sini di tengah-tengah dinginnya musim dingin? Maka aku mendengar kata-kata berikut di dalam jiwaku, “Engkau tahu, Aku mempedulikan serangga itu dan menopangnya. Tetapi, apa arti serangga itu dibandingkan denganmu? Mengapa jiwamu ketakutan meski hanya sejenak?” Aku minta maaf kepada Tuhan atas saat itu. Yesus menghendaki aku selalu menjadi seperti seorang anak dan menyerahkan segala urusanku kepada-Nya, dan dengan segenap hati menyerahkan diri kepada kehendak-Nya yang kudus. Ia telah mengambil segala sesuatu untuk diri-Nya.
(923) 7 Februari 1937. Hari ini, Tuhan berkata kepadaku, “Aku minta darimu persembahan yang sempurna dan yang terbakar seluruhnya, yakni persembahan kehendak. Tidak ada pengurbanan lain yang dapat dibandingkan dengan yang satu ini. Aku sendiri sedang mengarahkan hidupmu dan mengatur segala sesuatu sedemikian rupa sehingga bagi-Ku engkau akan menjadi suatu kurban lestari dan akan selalu melaksanakan kehendak-Ku. Dan untuk menggenapi kurban ini, engkau akan menyatukan dirimu dengan Aku di salib. Aku tahu apa yang dapat engkau lakukan. Aku sendiri akan memberi engkau banyak perintah secara langsung, tetapi Aku akan menunda kemungkinan pelaksanaannya dan membuatnya bergantung pada orang-orang lain. Tetapi, apa yang tidak dapat dilaksanakan oleh para superior, Aku sendiri akan langsung menggenapinya dalam jiwamu. Dan dalam lubuk jiwamu yang paling tersembunyi, suatu kurban yang sempurna akan dipersembahkan, bukan hanya untuk sesaat, tetapi ketahuilah, Putri-Ku, bahwa persembahan ini akan berlangsung sampai akhir hayatmu. Tetapi, masih ada waktu sehingga Aku, Tuhan, akan memenuhi semua keinginanmu. Aku bersukacita dalam dirimu seperti dalam Hosti yang hidup; janganlah ada sesuatu yang menggentarkan hatimu. Aku menyertaimu.”
(924) Hari ini, aku menerima suatu catatan rahasia dari Muder Superior yang melarang aku pergi ke samping tempat tidur orang yang menghadapi ajal. Karena itu, kepada orang yang menghadapi ajal, aku akan mengirimkan ketaatan sebagai ganti diriku sendiri, dan ini akan menguatkan jiwa-jiwa yang sedang menghadapi ajal. Demikianlah kehendak Allah, dan itu cukup bagiku. Apa yang tidak dapat kupahami sekarang, kelak akan kupahami.
(925) 7 Februari 1937. Hari ini, aku berdoa lebih khusyuk daripada kapan pun untuk Bapa Suci dan tiga imam agar Allah memberikan ilham kepada mereka sehubungan dengan apa yang Ia minta dariku karena pewujudannya tergantung pada mereka. Oh, betapa bahagianya aku bahwa kesehatan Bapa Suci membaik. Hari ini, aku mendengar ia memberi sambutan di hadapan Kongres Ekaristi, dan dalam roh aku pergi ke sana untuk menerima berkat apostolik.
(926) 9 Februari 1937. Selasa menjelang Prapaskah. Dalam dua hari terakhir pesta karnaval, aku merasa dilanda banjir dosa dan hukuman. Dalam sekejap, Tuhan memperlihatkan kepadaku dosa-dosa yang dilakukan di seluruh dunia pada hari ini. Aku pingsan karena ketakutan, dan meskipun aku tahu betapa dalamnya kerahiman Allah, aku heran bahwa Allah membiarkan umat manusia ada. Dan, Tuhan membuat aku tahu siapa yang menopang keberadaan umat manusia: mereka adalah jiwa-jiwa yang terpilih. Ketika jumlah jiwa-jiwa yang terpilih itu terpenuhi, maka keberadaan dunia akan berakhir.
(927) Dalam dua hari ini, aku menyambut komuni kudus sebagai olah penyilihan, dan aku berkata kepada Tuhan, “Yesus, hari ini aku mempersembahkan segala sesuatu untuk orang-orang berdosa. Biarlah deraan-deraan keadilan-Mu menimpa diriku, dan lautan kerahiman-Mu meliputi orang-orang berdosa yang malang.” Dan, Tuhan mendengarkan doaku: banyak jiwa kembali kepada Tuhan, tetapi aku mengalami sakratulmaut di bawah himpitan keadilan Allah. Aku merasa bahwa aku menjadi sasaran murka Allah yang mahatinggi. Petang hari penderitaanku telah mencapai tahap kesepian batin sehingga tanpa sengaja rintihan-rintihan keluar dari hatiku. Aku mengunci pintu kamarku dan memulai suatu adorasi; maksudku melaksanakan Jam Kudus. Kesepian batin dan pengalaman terhimpit oleh keadilan Allah - itulah doaku; rintihan dan kepedihan yang keluar dari jiwaku menggantikan percakapan yang manis dengan Tuhan.
(928) Kemudian, tiba-tiba aku melihat Tuhan yang mendekapkan aku ke Hati-Nya dan berkata, “Putri-Ku, jangan menangis karena Aku tidak dapat menahan air matamu. Aku akan memberikan kepadamu segala sesuatu yang engkau minta, tetapi berhentilah menangis.” Dan hatiku dipenuhi dengan sukacita yang besar, dan rohku, seperti biasa, membenamkan diri dalam Dia seperti dalam hartanya satu-satunya. Hari ini, didorong oleh kebaikan-Nya, aku berbicara lebih panjang lebar dengan Yesus.
(929) Setelah aku beristirahat di dekat Hati Yesus yang amat manis, aku berkata kepada-Nya, “Yesus, aku punya banyak hal untuk diceritakan.” Dan Tuhan berkata kepadaku dengan penuh kasih, “Berbicaralah terus Putri-Ku.” Dan aku mulai menyebut penderitaan hatiku; yakni, betapa besar kepedulianku terhadap seluruh umat manusia, yang “sama sekali tidak mengenal Engkau, dan mereka yang memang mengenal Engkau tetapi tidak mengasihi Engkau sebagaimana Engkau harus dikasihi. Aku juga melihat betapa mengerikan para pendosa itu melukai Hati-Mu; kemudian, aku melihat juga betapa kejinya kaum beriman, khususnya hamba-hamba-Mu, ditindas dan dianiaya. Dan kemudian, juga, aku melihat banyak jiwa terjun ke jurang neraka. Yesus, Engkau tahu, inilah penderitaan yang menggerogoti hati dan tulang-tulangku. Dan meskipun Engkau menunjukkan kepadaku kasih yang istimewa dan membanjiri hatiku dengan aliran-aliran sukacita-Mu, namun, semua itu tidak meringankan penderitaan yang telah aku sebutkan, malah sebaliknya menusuk-nusuk hatiku yang malang dengan semakin tajam. Oh, betapa bernyala-nyala keinginanku agar seluruh umat manusia berpaling dengan penuh harapan kepada kerahiman-Mu. Kemudian, melihat kemuliaan nama-Mu, hatiku akan lega.”
            Yesus mendengarkan curahan hatiku ini dengan penuh minat dan perhatian, seolah-olah Ia belum tahu apa-apa mengenai semua itu, dan ini tampaknya untuk membuat aku lebih lancar bercerita. Dan Tuhan berkata kepadaku, “Putri-Ku, curahan hatimu itu menyenangkan Aku, dan dengan mendaraskan Koronka engkau mengantar umat manusia semakin dekat kepada-Ku.” Sesudah mendengar kata-kata ini, aku mendapati diriku sendirian, tetapi kehadiran Allah selalu ada dalam jiwaku.
(930) O Yesusku, meskipun aku akan pergi kepada-Mu, dan Engkau akan memenuhi aku dengan diri-Mu, dan itu akan membuat kebahagiaanku lengkap, namun aku tidak akan melupakan umat manusia. Aku ingin menyingkapkan selubung surga sehingga bumi tak akan memiliki keragu-raguan lagi mengenai Kerahiman Ilahi. Hatiku tenang kalau memaklumkan kerahiman-Mu. Jiwa mempersembahkan kemuliaan yang paling besar kepada Penciptanya kalau ia berpaling dengan penuh harapan kepada Kerahiman Ilahi.
(931) 10 Februari 1937. Hari ini adalah Rabu Abu.
            Pada waktu misa kudus, dalam waktu yang singkat aku merasakan sengsara Yesus pada anggota-anggota tubuhku. Prapaskah adalah masa yang sangat istimewa dalam karya para imam. Kita harus membantu mereka menyelamatkan jiwa-jiwa.
(932) Beberapa hari yang lalu, aku menulis surat kepada pembimbingku, minta izin untuk beberapa mati raga ringan selama Prapaskah. Aku harus mengajukan permintaan ini lewat surat karena aku tidak mendapatkan izin dari dokter untuk pergi ke kota. Tetapi Rabu Abu sudah berlangsung, dan aku belum menerima jawaban. Maka pagi ini, sesudah komuni kudus, aku minta kepada Yesus agar dengan terang-Nya Ia memberikan ilham kepada pembimbingku supaya ia memberikan jawaban kepadaku, dan supaya aku tahu dalam jiwaku bahwa pembimbingku tidak berkeberatan aku melaksanakan mati raga-mati raga yang sudah kemintakan izin, dan bahwa ia akan memberikan izinnya. Maka dengan tenang, aku mulai melaksanakan mati raga itu. Pada siang hari yang sama, aku menerima surat dari pembimbingku, yang mengatakan bahwa dengan senang hati ia memberi aku izin untuk melaksanakan mati raga yang telah aku mintakan izin. Aku sangat senang bahwa pengetahuan batinku selaras dengan pandangan bapa rohaniku.
(933) Kemudian aku mendengar kata-kata berikut di dalam jiwaku, “Engkau akan menerima ganjaran yang lebih besar karena ketaatan dan penyerahanmu kepada bapak pengakuan mengenai mati raga-mati raga yang akan engkau laksanakan. Ketahuilah ini, Putri-Ku, dan bertindaklah dengan semestinya: apa saja, betapa pun kecilnya, yang memiliki meterai ketaatan kepada wakil-Ku sungguh menyenangkan Hati-Ku dan sangat berarti dalam pandangan-Ku.”
(934) Latihan-latihan ringan selama Prapaskah. Memang aku ingin dan rindu melakukan mati raga-mati raga yang berat seperti sebelumnya, tetapi aku tidak dapat melaksanakan karena aku berada di bawah pengawasan ketat dari dokter. Tetapi, aku dapat melaksanakan hal-hal ringan: pertama: tidur tanpa bantal; tidak makan kenyang biar tetap merasa lapar; setiap hari, dengan tangan terentang, mendaras Koronka yang telah diajarkan Tuhan kepadaku; kadang-kadang, dengan tangan terentang, selama waktu yang tidak ditentukan berdoa secara bebas. Ujudnya: memohon Kerahiman Ilahi bagi para pendosa yang malang, dan bagi para imam, memohon kekuatan agar mereka dapat membawa hati yang berdosa kepada pertobatan.
(935) Hubunganku dengan orang yang menghadapi ajal sangat dekat, sama seperti pada masa-masa sebelumnya. Aku sering mendampingi orang yang menghadapi ajal di tempat yang jauh, tetapi sukacitaku yang paling besar adalah ketika aku melihat janji kerahiman digenapi dalam jiwa-jiwa itu. Tuhan itu setia; apa yang pernah Ia tetapkan, pasti Ia penuhi.
(936) Seseorang di aula [rumah sakit] kami mulai memasuki saat kematian. Di tengah siksaan yang mengerikan, ia mengalami sakratulmaut selama tiga hari, kadang-kadang kembali sadar. Setiap orang di aula itu mendoakan dia. Aku ingin sekali pergi mengunjunginya, tetapi Muder Superior telah melarang aku mengunjungi orang yang menghadapi ajal; maka aku berdoa di kamarku untuk jiwa itu. Tetapi, ketika aku mendengar bahwa ia masih ada dalam sakratulmaut, dan tidak ada orang yang dapat mengatakan sampai berapa lama ia akan menderita, tiba-tiba aku marasakan bisikan dalam jiwaku dan aku berkata kepada Tuhan, “Yesus, kalau semua yang aku lakukan ini menyenangkan hati-Mu, aku mohon kepada-Mu, sebagai bukti, biarlah jiwa itu berhenti menderita dan langsung beralih ke alam kekalnya yang membahagiakan.” Beberapa minit kemudian, aku tahu bahwa orang itu telah menghembuskan napas terakhirnya dengan sedemikian tenang dan cepat sehingga mereka bahkan tidak sempat menyalakan lilin.
(937) Aku ingin mengatakan sepatah kata lagi mengenai pembimbing rohaniku. Sangat aneh bahwa begitu sedikit imam yang tahu bagaimana mencurahkan kemampuan, kekuatan, dan keberanian ke dalam jiwa sehingga ia dapat terus menerus mengupayakan kemajuan tanpa menjadi lelah. Di bawah bimbingan seperti itu suatu jiwa, yang tidak begitu kuat pun, dapat melakukan banyak hal untuk kemuliaan Allah. Dan di sini aku menemukan suatu rahasia, yakni bapak pengakuan, atau lebih tepat pembimbing rohani, tidak menyelepekan hal-hal kecil yang diungkapkan kepadanya oleh jiwa-jiwa. Dan ketika jiwa itu tahu bahwa ia sungguh-sungguh dibimbing, ia berusaha sekuat tenaga dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang paling kecil sekalipun untuk melaksanakan keutamaan dan juga untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang paling ringan. Dan dari usaha-usaha ini, ibarat dari batu-batu kecil, berdirilah dalam jiwa itu suatu bait yang sangat indah. Sebaliknya, kalau suatu jiwa tahu bahwa bapak pengakuan mengabaikan hal-hal kecil ini, ia pun akan mengabaikannya dan tidak lagi mengungkapkannya kepada bapak pengakuan dan, lebih buruk lagi, akan mulai menjadi teledor dalam hal-hal kecil. Dengan demikian, ia tidak semakin maju tetapi setahap demi setahap semakin mundur dan baru menyadari situasi itu ketika ia telah jatuh ke dalam sejumlah kesulitan yang serius. Di sini, suatu pertanyaan yang serius muncul dengan sendirinya: siapakah yang bersalah, jiwa yang bersangkutan atau bapak pengakuan; maksudnya: pembimbing rohani? Di sini aku berbicara tentang pembimbing. Menurutku, semua kesalahan harus ditimpakan pada pembimbing rohani yang tidak bijaksana; satu-satunya kesalahan jiwa itu adalah mengambil begitu saja keputusan seorang pembimbing rohani. Pembimbing rohani hendaknya dapat dengan baik membimbing jiwa-jiwa meniti jalan kehendak Allah menuju kesucian.
(938) Hendaknya jiwa berdoa dengan khusyuk dan lebih banyak bagi seorang pembimbing rohani dan hendaknya ia minta agar Tuhan sendiri memilihkan seorang pembimbing rohani baginya. Apa yang dimulai dalam Allah akan bersifat ilahi, dan apa yang dimulai secara melulu insani akan tetap bersifat insani. Allah itu sedemikian maharahim sehingga untuk menolong suatu jiwa, Ia sendiri memilih seorang pembimbing rohani dan memberikan terang kepada jiwa itu sehingga ia dapat mengenal pembimbing rohani itu, dan di hadapannya ia dapat mengungkapkan lubuk jiwanya yang paling tersembunyi seolah-olah ia membeberkan dirinya di hadapan Tuhan Yesus sendiri. Dan apabila jiwa itu tahu serta menyadari bahwa semua ini telah diatur oleh Allah, hendaknya ia berdoa dengan khusyuk bagi bapak pengakuan agar ia dapat memiliki terang ilahi untuk mengenalnya dengan baik. Hendaknya ia tidak berganti-ganti pembimbing seperti itu kecuali karena alasan yang sungguh berat. Sama seperti ia telah berdoa secara khusyuk dan cukup banyak untuk mengetahui kehendak Allah sebelum memilih seorang pembimbing rohani, demikian juga hendaknya ia berdoa dengan khusyuk dan cukup lama untuk menentukan apakah sungguh merupakan kehendak Allah bahwa ia meninggalkan pembimbing rohani yang lain. Kalau kehendak Allah tidak sungguh jelas, hendaknya ia tidak berganti pembimbing rohani karena dengan mengandalkan diri sendiri orang tidak akan mencapai kemajuan yang berarti, dan inilah yang dikehendaki oleh setan: membuat orang yang gigih mengupayakan kesucian itu membimbing dirinya sendiri karena, dengan demikian, tanpa ragu, ia tidak pernah akan mencapai kesucian.
(939) Ada suatu kekecualian [untuk hal ini], yakni kalau Allah sendiri mengarahkan jiwa itu; dalam hal ini, pembimbing rohani akan langsung menyadari bahwa orang tersebut dibimbing oleh Allah sendiri. Allah akan membuat dia mengetahui hal ini dengan jelas dan gamblang, dan dengan demikian orang itu hendaknya justru lebih mematuhi arahan pembimbing rohani daripada arahan orang lain mana pun. Dalam hal ini, pembimbing rohani tidak begitu banyak memberikan bimbingan atau menunjukkan jalan yang harus ditempuh oleh jiwa itu; tetapi, terutama, ia akan lebih banyak menilai dan mengukuhkan bahwa jiwa itu meniti jalan yang tepat dan dituntun oleh roh yang baik.
            Dalam situasi ini, pembimbing rohani hendaknya tidak hanya suci, tetapi juga berpengalaman dan bijaksana. Dan, hendaknya jiwa itu menempatkan pendapat pembimbing rohani di atas pendapat Allah sendiri karena dengan demikian jiwa itu akan terhindar dari khayalan dan penyimpangan. Kalau suatu jiwa tidak sepenuhnya mau menundukkan bisikan-bisikan hatinya kepada kontrol ketat Gereja, yakni kepada pembimbing rohani, jelas dengan sendirinya bahwa ia sedang dijerumuskan oleh roh jahat. Dalam hal-hal seperti ini, pembimbing rohani hendaknya sungguh-sungguh waspada dan dengan saksama menguji ketaatan jiwa itu. Setan bahkan dapat menyelubungi dirinya dengan mantol kerendahan hati, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengenakan mantol ketaatan, dan karena itu rencana-rencana jahatnya akan terbongkar. Tetapi, pembimbing rohani hendaknya tidak secara berlebihan mencemaskan jiwa seperti itu sebab kalau Allah menempatkan jiwa ini dalam asuhannya, Ia juga akan memberi dia terang ilahi yang cemerlang mengenai jiwa itu sebab, kalau tidak, mustahil ia dapat menangani dengan bijaksana misteri-misteri besar yang terjadi antara jiwa itu dan Allah.
(940) Aku sendiri sangat banyak menderita dan mengalami begitu banyak cobaan dalam kaitan dengan hal ini. Oleh karena itu, apa yang kutulis ialah apa yang telah aku alami sendiri. Barulah sesudah aku melakukan banyak novena, doa, dan laku tobat, Allah mengirim kepadaku seorang imam yang memahami jiwaku. Oh, kiranya akan banyak jiwa yang suci kalau saja ada lebih banyak bapak pengakuan yang berpengalaman dan saleh. Betapa banyaknya jiwa, yang gigih mengupayakan kekudusan, tidak mampu bertahan dalam masa-masa pencobaan dan meninggalkan jalan menuju kesempurnaan. O Yesus, berilah kami imam-imam yang bersemangat dan suci!
(941) Oh, betapa tingginya martabat imam, tetapi sekaligus, betapa berat tanggung jawabnya! Banyak sudah diberikan kepadamu, hai para imam, tetapi banyak juga yang akan dituntut darimu!
(942) 11 Februari 1936. Hari ini, hari Jumat. Dalam misa, aku menderita rasa sakit pada tubuhku: pada tanganku, pada kakiku, dan pada lambungku. Yesus sedang mengirim penderitaan ini kepadaku supaya aku mengadakan penyilihan bagi orang-orang berdosa. Rasa sakit itu tidak berlangsung lama, tetapi sangat nyeri. Tidak lebih dari beberapa menit aku menderita, tetapi rasa nyerinya bertahan sampai waktu yang lama dan sangat terasa.
(943) Hari ini, aku merasakan kesendirian yang luar biasa di dalam jiwaku sampai aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya bahkan kepada diriku sendiri. Aku ingin menyembunyikan diri dari semua orang dan menangis tanpa henti. Tidak seorangpun memahami hati yang terluka karena cinta, dan ketika hati seperti itu merasa diri ditinggalkan sama sekali, tidak seorang pun dapat menghiburnya. O Jiwa orang-orang berdosa, engkau telah mengambil Tuhan dariku, tetapi baiklah, baiklah; ketahuilah betapa manisnya Tuhan, dan biarlah seluruh lautan kepahitan melanda hatiku. Aku telah memberikan semua penghiburan ilahiku kepadamu.
(944) Ada saat-saat ketika aku tidak memercayai diriku sendiri, ketika aku merasakan kelemahan dan kejahatanku sendiri di dalam lubuk hatiku yang terdalam, sekaligus aku menyadari bahwa aku dapat menanggung saat-saat seperti itu hanya karena mengandalkan kerahiman Allah yang tak terbatas. Kesabaran, doa, dan keheningan - inilah yang memberikan kekuatan kepada jiwa. Ada saat-saat ketika orang harus diam, dan tidak tepat mengadakan pembicaraan dengan makhluk; inilah saat-saat ketika orang tidak puas dengan dirinya sendiri, dan ketika jiwa merasa lemah seperti seorang anak kecil. Kemudian jiwa itu berpaut pada Allah dengan segenap kekuatannya. Pada saat-saat seperti itu, aku hanya hidup karena iman, dan ketika aku merasa dikuatkan oleh rahmat Allah, maka aku lebih berani berbicara berkomunikasi dengan sesamaku.
(945) Pada petang hari, Tuhan berkata kepadaku, “Anak-Ku beristirahatlah dalam Hati-Ku; Aku melihat bahwa engkau telah bekerja keras di kebun anggur-Ku.” Dan jiwaku pun dibanjiri dengan sukacita ilahi.
(946) 12 Februari 1937. Hari ini, laksana siinar matahari, kehadiran Allah menembus hatiku makin lama makin dalam. Jiwaku merindukan Allah sedemikian hebatnya sehingga berulang kali aku seolah-olah jatuh pingsan. Aku merasakan diriku dijamah oleh Sang Kasih Kekal, dan kekecilanku tidak mampu menahannya, dan inilah yang menyebabkan aku seolah-olah pingsan. Tetapi, kekuatan batinku masih besar, dan jiwaku ingin mengimbangi cinta Sang Kasih yang diterimanya. Pada saat-saat seperti itu jiwa memiliki pengetahuan yang amat mendalam tentang Allah, dan semakin ia mengenal Allah, semakin murni serta semakin berkobar kasihnya akan Dia. Betapa tak terselami misteri yang terjadi antara jiwa dan Allah!
(947) Kadang-kadang, berjam-jam jiwaku tidak sadarkan diri karena takjub menyaksikan keagungan Allah yang tak terbatas yang merendahkan Diri begitu rendah ke tataran jiwaku. Tak kunjung henti pesona batinku bahwa Tuhan yang mahatinggi berkenan akan daku dan membeberkan Jati Diri-Nya kepadaku. Dan aku membenamkan diri bahkan lebih dalam lagi ke dalam kehampaanku sebab aku tahu siapa diriku. Tetapi, aku harus berkata bahwa sebagai tanggapan, aku mengasihi Penciptaku dengan setiap denyut jantungku dan setiap gerak sarafku; tanpa sadar jiwaku membenamkan diri, membenamkan diri ... di dalam Dia. Aku merasa bahwa tidak suatu pun akan memisahkan aku dari Tuhan, baik surga maupun bumi, baik masa sekarang maupun masa yang akan datang. Segala sesuatu akan berubah, tetapi kasih tidak pernah, tidak pernah berubah; ia selalu sama. Dia, Allah yang kuat dan kekal, membuat kehendak-Nya aku kenal supaya aku dapat mengasihi Dia secara sangat istimewa, dan Ia sendiri membuat jiwaku mampu mengasihi Dia sesuai dengan kehendak-Nya. Aku mengubur diriku sendiri makin hari makin dalam di dalam Dia, dan aku tidak takut akan suatu pun.
            Kasih telah menguasai seluruh hatiku, dan kalaupun aku diberi tahu tentang keadilan Allah dan tentang betapa roh-roh yang murni pun gemetar serta menutup wajahnya di hadapan Dia, sambil berkata tanpa henti, “Kudus,” yang memberi kesan bahwa keakrabanku dengan Allah akan merongrong kemuliaan dan keagungannya, [aku akan menjawab,] “O tidak, tidak, dan sekali lagi tidak!” Dalam kasih yang murni, ada ruang untuk segala sesuatu: pujian yang paling agung dan sembah sujud yang paling khusyuk; lewat kasih, jiwa akan membenamkan diri dalam damai sejati di dalam Dia; dan kata-kata orang, yang masuk dari luar, tidak akan mempengaruhi jiwa itu. Apa yang mereka katakan tentang Allah hanyalah bayangan yang kabur kalau dibandingkan dengan apa yang dialami jiwa itu tentang Allah sendiri; sering kali mengherankan bagaimana orang tersentak kagum atas apa yang dikatakan seseorang tentang Allah, sementara bagi jiwa itu ungkapan tersebut sama sekali tidak istimewa karena ia tahu bahwa apa yang dapat dituangkan dalam kata-kata belumlah seberapa. Maka, jiwa itu mendengarkan segala sesuatu dengan penuh hormat, tetapi ia sendiri hidup di dalam Allah.
(948) 13 Februari 1937. Hari ini, dalam Ibadat Sengsara, aku melihat Yesus disiksa, dimahkotai duri, dan memegang buluh dengan tangan-Nya. Yesus diam saja ketika para serdadu mondar-mandir di dekat-Nya, dan berlomba-lomba menyiksa-Nya. Yesus tidak berkata sepatah pun. Ia hanya memandangku, dan dalam tatapan itu aku merasakan penderitaan-Nya begitu mengerikan sehingga kita tidak mampu membayangkan betapa Ia menderita bagi kita sebelum Ia disalibkan. Jiwaku terasa perih dan merana; dalam jiwaku, aku merasakan kebencian yang kuat sekali terhadap dosa; bahkan ketidaksetiaanku yang paling kecil pun tampak padaku seperti gunung raksasa sehingga aku harus mengadakan penyilihan dengan mati raga dan laku tobat. Ketika aku melihat Yesus disiksa, hatiku tercabik-cabik, dan aku berpikir: apa jadinya orang-orang berdosa kalau mereka tidak memetik manfaat dari sengsara Yesus? Dalam Sengsara-Nya aku melihat seluruh samudra kerahiman.
Y.M.Y. 12 Februari 1937
Kasih Allah Adalah Bunga - Kerahiman Adalah Buahnya
(949) Biarlah jiwa yang bimbang membaca renungan-renungan tentang Kerahiman Ilahi ini dan menjadi percaya.
- Kerahiman Ilahi, yang mengalir dari rahim Bapa, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, sifat Allah yang tertinggi, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, misteri yang tak terselami, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahai, mata air yang mengalir dari misteri Tritunggal yang mahakudus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang tak terselami oleh akal budi, baik manusia maupun malaikat, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, sumber segala kehidupan dan kebahagiaan Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang melampaui surga, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, sumber mukjizat dan segala keajaiban, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang mencakup seluruh semesta, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang turun ke bumi dalam Pribadi Sabda yang menjelma, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang mengalir dari luka Hati Yesus yang menganga, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang terkandung dalam Hati Yesus bagi kami, khususnya bagi orang-orang berdosa, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang tak terselami dalam penetapan Ekaristi kudus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, dalam pembentukan Gereja kudus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, dalam Sakramen Baptis yang kudus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, dalam penyelamatan kami lewat Yesus Kristus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang menyertai kami sepanjang hidup kami, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang merenkuh kami, khususnya pada saat kematian, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang menganugerahkan kehidupan kekal kepada kami, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang menyertai kami setiap saat sepanjang hidup kami, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang melindungi kami dari api neraka, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, dalam pertobatan orang-orang berdosa yang keras hati, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang memesona para malaikat dan tak terselami oleh para kudus, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang tak terselami dalam semua misteri Allah, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang merengggut kami keluar dari segala kemalangan, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, sumber kebahagiaan dan sukacita kami, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang memanggil kami dari ketiadaan kepada keberadaan, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang merangkum semua karya tangan Allah, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi,  mahkota segala karya Allah yang ada maupun yang akan ada, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang didalamnya kami dibenamkan, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahikelegaan nyaman bagi hati yang sangat menderita, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, harapan satu-satunya bagi jiwa-jiwa yang putus asa, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, istirahat bagi hati, dan damai di tengah ketakutan, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, kesukaan dan kenikmatan jiwa-jiwa yang suci, Engkau andalanku!
- Kerahiman Ilahi, yang membangkitkan harapan di luar segala harapan, Engkau andalanku!
(950) Allah yang kekal, dalam diri-Mu ada kerahiman yang tanpa batas dan harta belas kasihan yang tak kunjung habis. Pandanglah kami dengan rela hati dan tingkatkanlah kerahiman-Mu dalam diri kami, supaya pada saat-saat sulit kami tidak menjadi putus asa atau remuk hati, tetapi dengan kepercayaan yang teguh menyerahkan diri kami kepada kehendak-Mu yang kudus, Sang Kasih dan Sang Kerahiman sendiri.